TAKALALA, SOPPENG – Menurut Badan Kesehatan Sedunia, WHO, 2010, hampir dua per tiga dari kematian di seluruh dunia disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular. Di negara-negara berkembang dari seluruh kematian yang terjadi pada orang berusia kurang dari 60 tahun, 29% disebabkan oleh PTM, sedangkan di negara-negara maju sebesar 13%. Di Indonesia pada tahun 2015, ada 10 penyakit penyebab terbesar kematian yakni stroke, kecelakaan lalu lintas, jantung iskemik, kanker, diabetes melitus, tuberkulosis, infeksi saluran pernafasan atas, depresi, asfiksia dan trauma kelahiran serta penyakit paru obstruksi kronis. Dari data itu terlihat dominasi penyakit tidak menular yaitu stroke, jantung iskemik, kanker dan diabetes melitus.
Mendekati hari lebaran, banyak masyarakat yang mudik ke kampung halaman masing-masing. Salah satu yang terpenting dari mudik tersebut adalah kesehatan sopir yang mengantar banyak jiwa. Oleh karena itu, dalam rangka arus mudik lebaran perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan bagi sopir khususnya pemeriksaan faktor resiko penyakit tidak menular.

Pemeriksaan Potensi Dini Faktor Resiko Penyakit Tidak Menular
Bagi UPTD Puskesmas Takalala, hari libur bukanlah penghambat untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pada hari Minggu (02/06/2019) dilaksanakan kegiatan Pemeriksaan Potensi Dini Faktor Resiko Penyakit Tidak Menular dalam Rangka Arus Mudik Lebaran bagi Sopir. Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas UPTD Puskesmas Takalala yang bekerja sama dengan lintas sektor yaitu kasatlantas, polsek Marioriwawo, babinkantibnas, satpol PP, dan dibantu oleh PSC Marioriwawo serta dihadiri oleh Kepala Bidang P2 Dinas Kesehatan Kab. Soppeng, ibu Ernawati, SKM. Kegiatan ini dilaksakan di pos pengamanan lebaran Marioriwawo yang berlokasi di dekat Pasar Sentral Takalala

Tujuan kegiatan ini adalah melakukan deteksi dini dan pemantauan terhadap faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) bagi sopir arus mudik lebaran. Faktor resiko yang dimaksud seperti merokok, pola makan tidak sehat, kurang aktifitas fisik, obesitas, stres, konsumsi minuman beralkohol, hipertensi, hiperglikemia, dan hiperkolesterol. Selain itu, untuk menindaklanjuti secara dini faktor risiko yang ditemukan, dilakukan konseling kesehatan dan segera merujuk pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan. Pemeriksaan yang dilakukan seperti anamnese riwayat merokok, aktivitas fisik dan konsumsi sayur buah, pengukuran tinggi dan berat badan, lingkar pinggang dan pinggul, tekanan darah, gula darah sewaktu, kolesterol dan asam urat.
Hasil Kegiatan
Hasil dari kegiatan diperoleh dominan dengan penyakit hiperkoleterol dan hipetensi. Pada kegiatan skrining tersebut, untuk pasien yang memiliki faktor risiko tersebut diberikan konseling/edukasi sedangkan untuk yang perlu intervensi pengobatan dirujuk ke sarana kesehatan terdekat. Kegiatan diakhiri dengan pembagian brosur dan leaflet tentang penyakit-penyakit tidak menular dan faktor risiko PTM pada pengguna jalan yang meliputi obesitas, penyakit paru obstruktif kronik, asma, PJK, kanker serviks dan kanker payudara, hipertensi, dan diabetes melitus.

Dengan adanya kegiatan diharapkan bagi pengguna jalan khususnya sopir dapat terus memantau kesehatan mereka sehingga terhindar dari penyakit tidak menular. (ANN/AS)
